“Saya butuh liburan!” kata saya dalam hati pada suatu hari yang sibuk.
Saya membutuhkan waktu untuk sendiri, merasakan kedamaian di dalam. Untuk berdialog dengan diri sendiri, sesuatu yang mustahil didapatkan di Jakarta, dengan semua meeting dan kegiatan. Saya memutuskan, saya harus pergi ke Ubud, Bali.
Sebagai orang Indonesia, bisa mengunjungi Bali kapanpun saya mau adalah suatu hal yang luarbiasa. Namun selama ini, saya hanya pergi ke tempat – tempat hiburan di Bali, dan sebagian besar orang Indonesia akan melakukan hal yang sama, pergi ke pantai. Namun Ubud, menawarkan sesuatu yang berbeda : ketenangan, kedamaian, dan Bali yang sesungguhnya. Saya benar – benar membutuhkan itu. Perjalanan singkat saya ke Ubud karena pengaruh besar dari buku terkenal karangan Elizabeth Gilbert : Eat, Pray, Love. Saya ingin melihat, merasakan dan mendapatkan apapun yang menjadi inspirasi bagi Elizabeth Gilbert untuk menulis buku tersebut. Salah satu orang penting (dalam buku Eat, Pray, Love) yang ingin saya temui adalah Ketut Liyer (dukun).
Jadi darimana saya harus memulai? saya mendapatkan tiket gratis dari Citilink (terima kasih banyak!), yang kurang hanyalah tanggal berangkat. Ternyata tanggal yang saya pilih tidak tepat, namun sudah terlambat. Saya memutuskan untuk berangkat ke Ubud pada 16 Juli 2010. Saya cuek dengan tanggal tersebut, hingga akhirnya saya meyadari saya belum booking hotel.
Saya ingin agar perjalanan ini sangat simple. Saya akan jalan sendiri. Saya tentunya memang bukan orang yang mewah, jadi saya bisa menikmati apa saja yang tersedia. Jadi, teman saya @b4nch4 bilang saya harus mencari penginapan bukan hotel. Saya mencari di Google selama 5 menit dan menemukan Jati Homestay. Tempat tersebut memiliki segala hal yang saya inginkan, termasuk pemandangan sawah. Lebih bagusnya lagi? biayanya hanya Rp. 150.000 per malam. Saya langsung memesan saat itu juga.
Ketika tiba, Dewa dari Jati Homestay menjemput saya di Bandara Udara Ngurah Rai dengan papan nama “Alia”. Jelas, dia salah mengeja nama saya. Kemudian saya mengetahui bahwa Dewa adalah manager/sopir dan guide di Jati Homestay. Saya membayar Rp. 200.000 untuk dijemput di Bandara Udara.
Karena saya sangat ingin ke pantai, saya meminta Dewa untuk mengantar saya ke Kuta, disana kami makan rujak. Merasa bosan dengan Kuta, kamu kemudian menuju ke Jimbaran. Disana kami menikmati minum kelapa dan sunset. Dewa adalah orang yang sangat bersahabat dan supel. Kami dapat berbincang – bincang dengan lancar karena ia memiliki pemikiran bisnis dan tertarik dengan aplikasi online. Jadi, ya, sambil berbincang – bincang mengenai budaya dan sejarah, kami berbincang mengenai html, frames dan Dreamweaver (program untuk membuat web).
Ketika kami tiba di Ubud, dengan 1 jam perjalanan dari Denpasar, hari sudah gelap. Saya mengikuti Dewa melalui jalan kecil di Jl. Hanoman, melewati rumah dan pura tradisional Bali. Hingga akhirnya saya tiba di kamar. Kamarnya dengan dinding bambu dan lukisan indah. Saya suka!
Dewa menyarankan kepada saya untuk makan malam di restoran Bebek Bengil. Saya menuju kesana dengan petunjuk darinya. Sebagian besar artshop di kota sudah tutup. Hanya ada beberapa turis seperti saya, berjalan di jalur yang sama dengan saya. Mungkin mereka juga merasa lapar. Saya berhenti di depan sebuah pura yang sedang ada latihan musik Bali. Saya sangat menyukainya, saya tidak bergerak selama beberapa menit. Tapi rasa lapar mengingatkan saya untuk kembali berjalan.
Bebek Bengil adalah restoran besar dengan suasana yang romantis. Masalahnya adalah, situasi disana tidak sesuai dengan makanannya : bebek. Bebek raksasa bahkan. Semua orang, maksud saya semua turis asing, makan dengan anggun menggunakan sendok dan garpu. Saya mengatakan pada diri saya, saya tidak peduli, saya akan makan dengan tangan! dan begitulah, seorang perempuan berjilbab, makan tanpa kendali, dengan tangan. Orang – orang disana memperhatikan saya. Hey…ini cara yang benar untuk menikmati bebek, okay?! Bebek goreng di Bebek Bengil + minum totalnya Rp. 100.000
Suara angin, kodok dan binatang – binatang kecil, membuat saya lebih mudah tidur. Saya terbangun dengan pemandangan sawah yang sangat indah yang tidak saya lihat malam sebelumnya. Dewa mengatakan bahwa Jati Homestay memiliki pemandangan yang sama dengan Komaneka,diseberang Jati Homestay. Harga Komaneka adalah $400 per malam. Ok, sekarang Dewa harus memberi saya komisi :p
Saya menikmati makan pagi di Cafe Jati Homestay dengan udara terbuka. Saya bertemu dengan pasangan dan keluarga dari Prancis. Ternyata saya adalah orang Indonesia satu – satunya di penginapan tersebut. Setelah makan pagi, Dewa menjelaskan tempat – tempat yang menarik di Ubud. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak ingin melakukan apa pun. Saya tidak ingin trekking, cycling, rafting…saya tidak ingin apapun! jawaban saya hanya membuat Dewa kecewa. Saya kasihan kepadanya, jadi saya mengatakan, “Saya hanya ingin duduk diam, membaca buku, dan melihat sesuatu.” Wajahnya kembali bersemangat, sambil menjelaskan dimana toko buku, museum dan lainnya. Semua bahagia.
Saya berjalan melewati beberapa toko exotic menuju ke tujuan pertama saya : toko buku. Sebut saya “geek”, namun buku sudah ada dalam darah dan jiwa saya. Jadi, satu – satunya hal yang saya beli di Ubud, bukan asesoris atau pernak – pernik, namun sebuah buku. Di toko buku ini terdapat buku – buku berbahasa Inggris, Belanda, Jerman dan Perancis. Saya membeli sebuah buku novel dengan harga sekitar $5. Mereka juga menjual kartu pos, anda harus kesana nanti..
Target saya berikutnya adalah museum Antonio Blanco. Pak Hermawan Kartajaya pernah menyebutkan tempat tersebut beberapa kali, ketika peluncuran bukunya yang berjudul Ubud : Semangat pulau Bali. Antonio Blanco, pelukis jenius, menikah dengan perempuan lokal Bali dan tinggal di Ubud. Rumahnya kini menjadi museum yang sangat indah, lengkap dengan lukisan mahakarya-nya. Saya harus melihat studio kreatifnya juga. Biaya untuk masuk adalah $5, harga aslinya : tak ternilai.
Cuaca yang unik di Ubud sangat membantu traveler seperti saya. Pada malam hari dan pagi hari, akan hujan deras seperti tidak ada hari esok. Cocok untuk beristirahat. Namun setelah jam 10, cuaca akan semakin tenang dan dan hangat. Cocok untuk jalan. Luar biasa.
Saya berjalan kembali ke museum Puri Lukisan untuk bersantai dan membaca buku yang saya beli. Biaya masuknya $4. Sambil minum teh botol dan Memperhatikan kedalam kolam hijau, saya dikejutkan oleh sms yang saya terima dari Mas Bembi, orang yang ikut menulis buku Ubud : Semangat pulau Bali bersama bapak Hermawan Kertajaya. Saya mengungang beliau untuk makan di cafe wayan. Saya belum pernah ke cafe Wayan sebelumnya, yang terletak di jalan Monkey Forest. Mudah! saya rasa saya telah menguasi Ubud dalam beberapa jam hehe syukur tuhan saya tidak tersesat:P
Cafe wayan adalah suatu cafe outdoor yang bagus. Makanan spesial disana adalah Nasi Campur. Dengan biaya $10. Saya bertemu dan berbincang dengan Mas Bembi selama 1 jam. Mas Bembi sudah meninggalkan kehidupannya di Jakarta dan tinggal di tempat yang indah ini. Wow…itu suatu keputusan yang besar! beliau menjelaskan segala yang perlu saya ketahui mengenai Ubud. Kemudian perbincangan kami berlanjug ke Ketut Liyer. Untuk mengikuti apa yang ada dalam buku “Eat, Pray, Love” saya harus menemui Ketut Liyer. Atau paling tidak berfoto bersama beliau. Mas Bembi mengatakan “Saya sudah beberapa kali bertemu dengannya…!” Saya terkejut. “Bisa antar saya ke tempatnya?!” Saya meminta dengan suara yang manis.”Tentu!” dan kamipun berangkat. Tidak ada transportasi umum di Ubud, jadi kami menyewa mobil. Untuk jarak yang dekat biayanya sekitar $1 hingga $5. Menyewa motor? sekitar $4 perhari. Sepeda $3 perhari.
Dalam 5 menit kami tiba di tempat tinggal Ketut Liyer. Beliau sedang tidur pada waktu kami tiba dan saya tidak ingin menggangu beliau. Namun ia akhirnya keluar dengan senyum ompongnya. Saya terkagum. Beliau benar – benar persis seperti deskripsi Elizabeth Gilbert di dalam bukunya. Saya mengatakan kepada beliau, saya datang karena Elizabeth Gilbert dan bukunya. Ia menunjukkan kepada saya salinan asli dari buku Eat, Pray, Love yang ditanda tangani oleh Elizabeth Gilbert. Bertukar cerita. Hingga pada suatu saat, ia bertanya kepada saya apakah saya mau “dibaca”. Saya terkejut dan takut. Saya memandang Mas Bembi dengan gugup. Beliau mau membaca pikiran saya. Dan mungkin beliau sudah melakukannya dari tadi.
Setelah saya mengangguk, ia memandang saya. Sebagai seorang dukun, beliau dapat mengetahui bahwa saya dalam keadaan sehat. Bagus, katanya. Kemudian ia mengatakan bahwa saya harus mengejar hal – hal yang berkaitan dengan seni, apapun yang saya lakukan pasti akan berhasil. Saya sangat pintar, namun terkadang saya tidak sabar. Saya ingin segala sesuatunya dengan cepat. Saya mengangguk. “Kamu jangan cemberut. Berbahagialah. Berdandanlah!” Mulut saya terbuka dengan ketidakpercayaan, tapi saya mengatakan, “Ok, saya akan berdandan…” dan untuk menutup percakapan kami, beliau mengatakan, “Saya melihat bunga, bunga yang sama seperti yang ada pada Elizabeth, kamu akan sukses, persis seperti dia!” Saya menjawab,”Aminn!” saya berterima kasih. Beliau juga mengatakan bahwa beliau hampir bangkrut. Biaya pendidikan anak sekarang mahal. Beliau mengatakan hal tersebut kepada semua tamu seperti suatu pola, saya rasa. Jadi saya menyelipkan beberapa rupiah ke tangan kanannya. Beberapa orang mengatakan bahwa kita harus menyiapkan $25
Bahkan setelah menikmati pemandangan sawah, setelah Mas Bembi mengantar saya kembali ke jalan Monkey Forest (terima kasih banyak Mas Bembi), setelah membersihkan kulit mati dengan ikan ($5), setelah pijat tradisional di Bodywork($12), saya masih memikirkan apa yang dikatakan Ketut Liyer. Apakah saya sering cemberut? apakah ini ketidakbahagiaan?
Saya menutup hari yang sempurna ini dengan menonton kecak di pura setempat ($8). Tari kecak adalah tarian favorit saya karena gerakannya yang dinamis. Dan yang saya tonton di Ubud adalah pertunjukan yang sangat spesial. Saya suka sekali!
Sebelum saya kembali ke kamar, saya menikmati makan malam di suatu cafe di depan pura. Saya memesan Pizza Tuna Mushroom($5). Sambil menikmati pizza tersebut saya menutup mata dan mendengarkan music tradisional yang berasal dari pura. Kemudian saya berbicara, berbicara kedalam hati. Saya makan malam berduaan dengan diri saya sendiri!
Dihari terakhir saya di Ubud, Dewa mengajak saya untuk makan di nasi Ayam Kedewatan. Pedas dan enak! Yumm yumm!($2)
Tidak diduga, saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan didalam hati, dari sebuah buku yang saya beli di Ubud, dalam perjalanan pulang kembali ke Jakarta. Tuhan bekerja dengan keajaiban yang luar biasa dan tidak terduga. Saya sangat berterimakasih untuk pengalaman luar biasa ini. Sejujurnya, walaupun saya mencintai “surga” ini, namun saya tidak akan pernah bisa meninggalkan Jakarta. Sekarang, saya harus membuat “surga” versi saya sendiri, dengan memori akan Ubud.
Saya teringat bagaimana Dewa ingin tinggal di tempat lain dan saya bertanya kepadanya, “Bagaimana kamu bisa bosan dengan surga ini?”
Di akhir perbincangan kami, kami sepakat akan 1 hal bahwa kami hanyalah manusia biasa. Kami menginginkan apa yang kami tidak miliki. Rasa syukurlah yang paling penting.
Terima kasih Ubud, telah mengajarkan saya mengenai hidup. Mari bertemu lagi dilain waktu.
***********************************
penulis : Aulia Halimatussadiah
tulisan asli bisa dibaca di Ollie’s Blog
***********************************

















Oh my good.so sweet tulisannya.
Btw,rate yg ditulis $ itu usd yach
iya itu dalam USD – wajib dicoba tinggal di Ubud bagi yang belum pernah. Nice view and people…place to relax and make friends…